sebuah prosa memberikan kebebasan bagi para pembaca utk menafsirkan kandungannya tanpa batasan. yg demikian itu merupakan wujud dari prosa itu sendiri yg merupakan hasil pemikiran bebas penulisnya. apa yg tertulis di sini mungkin terlalu subjektif bagi yg lain, tapi adalah tidak adil kiranya apabila penilaian terhadap tulisan ini jg dibatasi subjektivitas. jadi, disarankan utk sebelumnya membersihkan pikiran yg berkecamuk sebelum membaca tulisan ini. juga, tetap berusaha mendinginkan kepala selama membacanya. kemudian, silakan menafsirkannya dengan bebas dan terbuka. sepanjang tidak melakukan tindakan anarkis karenanya, hal itu masih dalam batasan wajar.
...
btw, emangnya mo nulis apaan sih...???
dimulai dari sebuah pernyataan "setiap mahluk diciptakan berpasangan".
egh? topik yg biasa? yeah...! terlalu biasa bagi org yg biasa. well, pikiran tentang hal ini sebenarnya adalah kejadian biasa di sekitar kita. dan setiap hari kita membicarakannya. bukan! ini bukan tentang jodoh! tapi tentang "pasangan"! coba baca lagi judul tulisan ini (hehehe...!).
yin yang. baik buruk. hitam putih. laki2 perempuan. khalik mahluk. atas bawah... ok kids! anyone can say the other else?
"in this business, nothing's clear. everything's grey." oh..., apakah ternyata ada pilihan selain benar dan salah, kanan dan kiri, kalah dan menang...? tidak! itu cuma perbedaan cara pandang. semuanya cuma ada 2: win or lose, black and white, fact or fiction... contoh gampang, ketika kita menghadapai test (misalnya test IQ): "anda didatangi seorang pengemis, uang di saku anda tinggal RP 1.000 untuk ongkos pulang naik bis. apakah anda akan memberikan uang itu kepadanya?" pilihan jawaban: "a.tidak b.ragu2 c. iya". percayalah, kenyataannya jawaban ragu2 sama dengan "tidak", apabila yg dijadikan penilaian adalah ada atau tidaknya kejadian "memberikan uang kepada pengemis". selama anda ragu2 (mungkin mikir seperti ini: ntar kl dikasihkan, saya harus pulang jalan kaki ke rumah, tapi kasihan juga ya?) tentunya "tidak terjadi kejadian anda memberikan uang kepada pengemis". sekarang cara pandangnya di rubah sedikit, penilaiannya adalah sikap anda: anda seorang yg yakin atau tidak? dalam hal
ini, jawaban "tidak" dan "iya" memberikan nilai yg sama, yaitu: "yakin". bagaimana untuk menilai "kebaikan"? yg ini tidak bisa langsung dinilai, karena tidak bisa menilai seseorang hanya dari 1 pertanyaan (sebenarnya 2 jenis penilaian sebelumnya juga tidak begitu akurat), perlu diberikan pertanyaan2 lain yg akan menjelaskan bagaimana sikap anda. jadi kita berada di wilayah abu2 (tidak jelas) donk? bukan! sekali lagi, sudut pandang kita adalah jawabannya, seperti ini contohnya (berdasarkan kasus ini): "anda sudah bisa dinilai atau belum" sudah atau belum! that's the answer is!
ok, let's go further. sudut pandang yg berbeda sering menjadi alasan kenapa banyak kejadian2 konyol di sekitar kita. tentu ada yg pernah tahu joke tentang supir amerika mengendarai kendaraan di inggris:
english policeman, bobby (b): sorry, sir. you're not driving on the right side, it's wrong.
american (a): what? i did driving on the "right" side.
b: no. it's a wrong side. it has to be "left". it's our rule.
a: did you said that the rule say i have to "left" the "right" side?
b: no! you have to drive on the "left" side. it's "right" like our "right" hand, and "left" like our "left" hand. it's not "right" as it is "true", or "left" as it is "false".
a: oh, holly. "english" are confusing.
b: oh yeah, it doesn't like "american english" slangers...
see?
kasus lain sedikit lebih berarti dalam dalam melihat sesuatu benar atau tidak. yg paling gampang adalah sosok naga. bagi orang eropa (dan bule2 lain), naga merupakan mahluk jahat: membakar rumah2 penduduk dengan api, menakutkan kita dengan rupa sangarnya, atau bentuknya seperti kadal raksasa yg licik sehingga menjadikannya sebagai sesuatu yg harus dibunuh. dibunuh. tapi kita tahu bagaiamana orang2 cina (dan kebanyakan org2 asia mongolid lainnya) memandang naga: membakar pasukan2 musuh, disegani dengan hanya memandang kharismanya, atau bentuknya seperti ular raksasa yg bijaksana dan berkuasa kemudian menjadikannya sebagai sesuatu yg harus dicari untuk disembah.
wah... jadi berkembang jauh sekali ini...
inti dari tulisan di atas jelas, segalanya mempunyai pasangan. kepercayaan bahwa Tuhan Maha Tunggal bukan berarti salah, tapi berbeda dalam menafsirkan: Dia tidak punya bapak, ibu, istri, anak, partner kerja, atau penciptanya. lalu, bagaimana cara menilai bahwa "semuanya memiliki pasangan?" wah, jangan plesetkan pernyataan di awal tulisan ini lho yaaa... ingat kembali, putar cara pandang kita. jadi inget, saya sempat berfikir ttg "cara berfikir yg berbeda" ketika periksa mata. mata saya silindris. bukan tebal atau kecembungan lensa yg jadi penentu utama, tapi sudut fokus! kl kita memaksakan "memandang sesuatu hanya dengan 1 sudut pandang", kita tidak akan bisa "melihat dengan jelas". back to the point, mari kita pandang Tuhan dalam sudut pandang berbeda agar kita menemukan korelasinya dengan tulisan ini: Tuhan adalah Khalik, kita adalah mahluk. jelas? Tuhan Tunggal dan kita jamak. nah, pasti bisa ketemu pernyataan2 lain kan? sekali lagi, jangan terjebak dengan perbedaan sudut pandang.
bagian akhir dari tulisan ini (hegh3x).
teman saya pernah mengatakan kalau cara berfikir saya cenderung "negatif" karena penis saya kl ereksi melengkung ke "kiri". whatta heck! 1.vulgar amat sih? 2.kenapa kiri selalu negatif? ketika politik yg berkuasa dikatakan sebagai aliran kanan, maka oposisi dikatakan sebagai aliran kiri. sekarang, apa anda bisa buktikan bahwa dia yg duduk di kursi presiden itu tidak bersalah? lagipula point 3.apa hubungannya penis dengan pikiran? ya..., mungkin ada, tapi tidak secara fisik arah lengkungannya merubah arah pola pikir manusia! masih lebih baik bagi saya pendapat seorang teman yg mengatakan kalau saya melakukan suatu... apa ya dia bilang waktu itu... kelakuan yg aneh2? yah, pokoknya itulah... jadi, saya melakukan hal itu karena pengaruh orang2 di sekitar saya, bukan seperti dia yg melakukannya karena merupakan hasil dari keinginan pribadi. itu lebih objektif (saya tidak mengatakannya sebagai sesuatu yg benar).
well..., sebagai penutup, pernyataan pendek ini mungkin bisa dijadikan kesimpulan: semua memiliki pasangan. yg tidak bisa melihat pasangan itu, harus mengubah cara pandangnya. pelajari bagaimana cara orang lain umumnya memandang sesuatu.
that's it...!!!
1 comment:
ngga ngerti sye... dibaca berulang2 kali tetep ngga ngerti..
mungkin otak saya lagi butek kali ya :) :) :)
Post a Comment