langsung ke pokok permasalahan...
seringkali aku berdiskusi dengan bosku tentang kamera yg kupakai bekerja. Sony DSC-S75 (selanjutnya dipanggil s75) sebenarnya cukup lumayan, toh cuma untuk foto kursi, meja, dsj... tapi kupikir, sayang sekali ya? dengan harga yg kurang lebih sama. kita bisa mendapatkan kamera poket lain yg lebih bagus. memang, kemampuan s75 tidak standar kamera poket. kita bisa mengatur speed, apperture, iso, flash, dst secara manual. jadi, kamera itu tidak bisa dikatakan sepenuhnya kamera poket. aku lebih suka mengatakannya sebagai kamera semi-profesional. well, sayangnya emang tu kamera ga bisa ganti lensa. fokus manual pun cuma angka, kita tidak bisa mengaturnya lewat pandangan sampai gambar berhasil terekam.
suatu ketika bosku kurang puas dgn gambar yg kuambil. well, emang aku mungkin kurang menguasai setingan s75, karena entah kenapa gambar yg diambil di studio hasilnya tidak seindah gambar yg kuambil di outdoor area. padahal sebelumnya lumayan bagus. tapi dia (bosku) juga mencoba mengambil gambar di studio, hasilnya malah lebih jelek (hehehe...). dia bilang 99.99% sure that something's wrong with this camera. kutimpali sambil bercanda, why shouldn't you buy a new one? it's not so expensive to buy a dslr camera right now (soalnya aku baru lihat iklan sony a100, trus lihat2 situs kamera). si bos cuma cengar-cengir aja (soalnya aku jg ngomong sambil cengar-cengir).
beberapa hari kemudian, dia datang ke kantor sambil bawa tas kamera. dia langsung ke mejaku dan bilang, you have to learn how to use it. i want you to buy this camera. begitu kulihat, aku langsung bilang, huey... this is expensive! this one is a crazy (buatku, ini kamera gila...)!!! jadilah kemudian aku pakai kamera ini. nikon d80.

aku bilang begini ketika mulai mengerti menggunakannya, if you fired me, i want this camera as payment of suspension. dia malah ketawa.
No comments:
Post a Comment