Tuesday, January 09, 2007

PERTEMANAN (part one)

posting pertama di tahun baru. yeah... banyak yg terjadi selama tahun 2006: aku kawin, aku punya anak, aku kerja di pabrik, alda mati, adi mati, adam air hilang... weleh!

yg jg berubah adalah kelompok sosial. kelompok sosialku sekarang didominasi staf & karyawan pabrik. jelas lah, dimana bumi diinjak disana langit dijunjung, dimana kasur digelar disitu kita tidur, dimana musik didengar disana kita berpesta, dimana perempuan mengangkang disitu kita menegang... haiyah...?!?! however, mengerti kan maksudku? dan kehidupan sosial di pabrik cukup menarik, terutama para karyawan (labor). beragam corak dan warna seperti taman bunga subtropis dihiasi pelangi dengan background batik trusmi. colorful! wajah ceria ketika menerima bayaran, pandangan kesal saat pekerjaan menumpuk, tatapan penuh harapan saat minta kasbon... beragam! lagu2 dangdut pantura menjadi theme song setiap hari. bahasa cirebon dgn dialek plered menjadi percakapan sehari-hari (bahkan aku yg lidahnya jelas2 bkn settingan cerbonan).

staf punya gaya berbeda tapi ragam yang sama. terlebih karena seharian ketemu jadi mengenal karakter masing2. tidak semuanya dekat, tapi cukup akrab. satu dan lainnya berbeda dengan kekhasan masing2. terlalu berlebihan? tidak juga koq! kupikir setiap kelompok sosial selalu punya keunikan tersendiri meski kemudian topiknya hampir2 mirip: kerjaan, gosip ttg atasan, duit, keluarga, interrelasi... yeah! pasti yg terakhir lebih menarik?

aku bisa membuatmu jatuh cinta karena telah terbiasa, syair lagu dewa. witing trisno jalaran soko kulino, istriku bilang.

pertama kali masuk ke perusahaan ini, pastinya mata langsung pasang mode auto filter scan. yeah, prosedur standar seorang aku dalam mengamati lawan jenis.

scaning process: done.
result: none.

hm..., mungkin sebaiknya adjusting filter dulu. bagaimanapun, mode auto filterku suka banyak tingkah. padahal pemiliknya nggak ganteng2 banget, baru sedikit saja di atas primus. whotteva! akhirnya aku menggunakan mode 3rd layer auto balanced comprehensive filter. yeah, hasilnya masih banyak noise, jadi perlu sedikit revise. akhirnya, aku menemukan beberapa yg cocok untuk dijadikan real-view-but-not-for-real-touch. hey! aku tidak senakal dugaanmu!

jadilah tahapan2 dlm pertemanan dimulai. berjalan lancar. tapi tetap harus jaga kualitas toh? meskipun bukan buat "diapa2in", khan bukan berarti ngga bisa "diapa2in"? aku berjalan kemana angin berhembus! untungnya, ada sedikit guidance dalam menjaga kualitas scanner-ku (jadi walapun angin membawaku ke jalan berlubang, aku masih bisa menghindarinya!). seminggu sekali tepatnya pada hari jum'at, biasanya pihak bank perusahaan dimana aku bekerja membawa langsung uang kas dalam jumlah besar untuk pembayaran (utamanya gaji karyawan yg biasa disebut oleh orang cirebon sebagai "lorisan"). nah, yang bawa uang itu tidak hanya pria seram berkumis baplang (seperti yg ada di iklan rokok dalam menggambarkan petugas jalan raya), tapi gadis2 cantik sexy dengan dandanan khas a la marketing bank (jadi inget seseorang yg bekerja di sebuah bank. hihihi...). uhm, cukup bagiku untuk dijadikan pegangan (meski belum kupegang beneran dengan tangan).

time's running. banyak yg berubah sepanjang menjalani tugas sebagai designer di divisi digital art and advertising. beberapa dari mereka (yg perempuan) berkembang jadi semakin cantik. beberapa dari mereka (masih tetap yg perempuan) sudah bisa masuk 2nd layer. real-view-also-real-for-touch. tapi jelas jarak tetap dipertahankan mengingat status. dan pastinya ini cirebon, bukan jakarta. bisik tetangga bisa berkembang menjadi wacana nasional di sini.

...

eh, sepertinya pepatah yg kusebut di atas mulai mengena ya? membuatku berfikir apa hal itu datang karena biasa? lagipula kalau dipikir2, ini bukan cinta, tapi nafsu. tidak ada degup jantung yg tidak beraturan, hanya denyut2 di selangkangan yg berkesinambungan. jadi? mungkin pepatah itu perlu diperbaiki sedikit berkenaan dengan posting ini:

kamu bisa membuatku naik nafsu kepadamu karna terbiasa, syair lagu dewa.

....

aku tidak bisa menerjemahkan pepatah itu ke dalam boso jowo. heuheuheu....

No comments: