Monday, December 25, 2006

Over Boundary Free Mind of A Father

kemarin malam aku, istri, ayah dan ibuku membicarakan tentang rekan-rekan dan keluarga yang baru saja memiliki anak. sampai kemudian ibuku menanyakan jenis kelamin cucuku. yeah, aku sudah punya cucu. ceritanya, keponakan istriku itu sudah memiliki anak, jadi secara tidak langsung, cucuku bukan?

cucuku itu seorang laki-laki. demikian jg keponakanku yang lain sebagian besar laki-laki. jadi kalau dihitung, dari keluarga istriku saja ada 4 anak laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh. begitupun teman-teman dan rekan-rekanku sebagian besar memiliki anak laki-laki. aku tidak mau menghubungkan hal ini dengan masalah gender. maksudku, sebuah pendapat bahwa alasan berpoligami karena jumlah laki-laki di dunia ini lebih banyak daripada perempuan sudah tidak valid lagi karena perbandingan itu sudah berbalik.

ibuku tiba-tiba bilang begini, "banyak amat yang baru punya anak laki-laki, apa mungkin sebentar lagi mau perang ya?"

mau tidak mau aku berpikir, hal itu bisa saja terjadi. lalu seperti yang mungkin banyak dipikirkan oleh bapak-bapak yang lain, seandainya saja ada perang dan penduduk dikenakan wajib militer, semoga saja pada saat itu anak-anak kami belum cukup usia. lebih baik kami saja, para bapak-bapak ini yang terjun ke medan perang daripada anak. dilematis memang, akrena di satu sisi mungkin pemikirannya berbeda, sebaiknya anak saja karena saat ini bapak lebih dibutuhkan untuk menghidupi keluarga. tapi kan, kalo perang, mungkin kondisi hidup akan berbeda. gimana cara menghidupi keluarga?

jualan senjata kali, ye...???

yang pasti, pikiranku jadi berkembang tanpa bisa dibatasi (namanya juga pemikir, ceilah...). melihat situasi yang berkembang di dunia belakangan ini (koq seperti politikus ya aku ini?), apa kira-kira yang akan jadi alasan perang itu nanti ya? pastinya sih masalah mempertahankan diri. tapi pastinya ada alasan yang mengaburkannya.

mungkin masalah nuklir. kata negara A, kamu tidak boleh punya nuklir! kamu kan nanti bikin itu nuklir jadi senjata? kata negara B, lah, kalo gue gak buat reaktor nuklir, listrik negara gue pake apa? kan situ 'ndiri yang batasin pasokan minyak gue? lagian bukannya situ yang punya senjata nuklir? kata A lagi, harus ada yang punya kekuatan untuk menentramkan kehidupan di bumi ini. tindakan bodoh bila petugas keamanan tidak punya senjata. kata negara B, yegh... emang siapa yang bikin bumi ini kagak tentrem?

trus, bum! perang!

atau masalah minyak? kata A, hey kamu, kenapa sombong benar tidak pakai kontraktor saya buat gali sumur minyak? padahal saya juga kasih market buat kamu jual itu minyak. kamu tidak usah pikir kemana mau jual minyak. kata B, abis, situ maunya harga murah sih! lagian negara lain lebih butuh! kata A, kamu tidak usah pikir susah-susah! nanti kepalamu makin panas di negara panas begitu! kata B, jih, situ keseringan kagak mikir soalnya!

kemudian, jder! perang!

atau masalah ekonomi? kata A, perilakumu membuat dunia perdagangan tidak pasti! perilaku dagangmu terlalu licik bagai serigala! perilakumu tidak bermoral dan tidak menghargai hak pribadi! kata B, oom! pabrik gue dulu yang ngancurin situ! hutang sejuta dibikin setrilyun kan situ yang bikin!

lalu, duar! perang!

yeah... too many silly reason easy to make war. masalah memek aja bisa bikin perang?

selanjutnya, tentu aku akan berpikir, apapun yang akan terjadi, kuharap aku berada di jalan Tuhan.

nah lho! jangan salah! dalam sejarah, paling banyak alasan perang karena agama!

jadi, apa yang kulakukan...???

....

wah, sudah sore. sebaiknya aku pulang dan menemui anakku...

No comments: