ketertarikan kita akan dunia alam liar sepertinya tidak akan pernah hilang. kukira postulat ini berlaku bagi semua orang. hanya saja setiap pribadi memandangnya dengan cara yang berbeda.
kemarin ketika baru saja meninggalkan kantor istri, aku melihat seekor musang yang sangat besar. musang itu mungkin ditangkap oleh penduduk setempat karena (sekali lagi : mungkin) hendak mencuri ayam. musang dikenal sebagai pencuri ayam. entu saja, bagi para musang hal itu bukan suatu tindak kriminal. mereka cuma mempertahankan hidup.
klik kalimat ini untuk mencari tahu tentang musang
well, ketika kuceritakan pada istriku, ternyata ia juga melihatnya. kebetulan hari itu ia pulang lebih cepat dari biasanya dan di perjalanan ia melihat musang itu sedang dijadikan tontonan orang banyak. kakinya diikat, dan ia terlihat cemas. istriku melihat ada tetesan darah di beberapa bagian tubuhnya. mungkin kena pukul?
kasihan yah... ihik! ihik! hik! hik! hik!
bagaimanapun kemungkinan musang itu akan dibunuh (untuk dijual kulitnya yang memiliki pola rambut unik) sangat kecil. masyarakat jawa masih memandang musang sebagai bagian dari kucing, dan meski kucing liar sering dijauhi, masih saja banyak yang memperlakukannya dengan lebih baik. minimal kalau kucing tertabrak, si supir akan berhenti dan mengurusnya lebih dulu (minimal dilihat...). hal yang jauh berbeda dialami oleh ular.
sore harinya ketika maghrib menjelang, aku dan istriku sampai di rumah. dalam kondisi remang-remang aku melihat sebuah (atau seutas? seekor?) benda panjang mencurigakan di bawah, di sela pintu garasi dan lantai. ya, dari pertama langsung kutebak bahwa itu adalah ular meskipun istriku menganggapnya tikus. get real! mana ada tikus melata (jawaban asal seperti "tikus yg sedang keseleo, tikus yg cacat, tikus yg pakai kostum ular, dst..." tidak kuanggap!)?
istriku langsung menjauh karena perintahku, tapi yang kukhawatirkan adalah si bibi. pembantuku itu langsung membuka pintu garasi ketika aku menekan klakson. aku berteriak untuk jangan mendekat karena ada ular, dan dia langsung menurut karena ular itu terlihat olehnya. aku merasa lega mengatahui hal itu mengingat mata pembantuku itu agak2 rabun sedangkan kondisi ruangan remang2. kubiarkan lamu motor menyala dan mauk ke rumah lewat pintu teras. bibi mengatakan kalau ular itu ada di bawah papan setrikaan. aku membuka pintu dapur untuk memastikan, dan memang benar... SEEKOR ULAR SEGEDE GABAN! (tentang kenapa aku suka menyebut segede gaban, di posting selanjutnya saja...) aku langsung menutup pintu kembali. istriku menyuruhku untuk mengusir ular itu (instead of kill it!) karena waktu itu maghrib (another javanese superstitious). tantu saja apapun yg kulakukan, aku harus membuka pintu dapur! jadi, kubuka pintu dapur...
yes...!!! ternyata itu ular kobra! meskipun kobra kampung, tetep kobra namanya! kepalanya spontan naik ketika aku membuka pintu dapur, makanya aku tahu itu ular kobra (sekali lagi, tanggapan asal seperti "selain kobra ada jg ular yg bisa mengangkat kepala: ular yg namanya dipanggil, ular lagi joget, ular lagi menghadap bendera, dst..." tidak kuanggap!!!).
klik kalimat ini untuk mencari tahu tentang ular kobra
refleks aku menutup pintu karena kulihat ular itu hendak masuk ke rumah. grek...
ok! sebagian dari kalian boleh menganggap membunuh (bagiku itu bukan pembunuhan...) binatang di malam hari (terutama ular) di malam hari itu tabu. well, aku tidak mau dipatuk ular kobra (kobra kampung lagi!). jadi ketika kepala ular itu terjepit pintu, kuinjak keras2 (untungnya aku masih pakai sepatu...). setelah memastikannya mati, aku baru tahu kalau ular itu panjangnya kira2 80-85 cm (ketika kujajarkan di lantai keramik, panjangnya kurang dr 3 keramik ukuran 30 cm). warnanya hitam total (namanya juga kobra kampung). aku membuangnya di tempat sampah.
sangat mudah membangkitkan niat membunuh ular dan membiarkan musang hidup. bagaimana kalau bangsa burung? yang langka? burung hantu misalnya? di malam hari?
ada gedung yang dijadikan sebagai penangkaran (sebenarnya sangat tidak tepat disebut sebagai penangkaran, untuk mengerti hal ini silakan mencari tahu tentang...) burung walet. masih kosong. sebenarnya sempat masuk beberapa ekor burung walet, tetapi kemudian kabur lagi (dan sudah berulang kali) karena burung hantu. selama gedung itu berdiri, ayahku sudah menembak 5 ekor burung hantu sedangkan aku cuma satu.
klik kalimat ini untuk mencari tahu tentang burung hantu
ya, burung hantu memang dilindungi, tapi bisnis adalah bisnis. siapa yg terkuat dia yang menang? yang pasti, ketika melihat burung hantu itu, aku dengan yakin menembaknya. well, 1 shoot enough to drop it down. tapi aku harus menembaknya lagi untuk memastikannya mati segera (aku tidak mau menyiksanya). apalagi ketika itu bulan telah datang.
sebelumnya kami (aku dan istri) sedang dalam perjalanan pulang ketika bulan purnama muncul. kemarin dimulainya nifsu sya'ban. bulan tampil dengan indahnya. aku sempat ingat kata teman kantorku kalau akan ada gerhana bulan. sayangnya aku lupa kapan.
ya! benar! bagi anda sangat suka astronomi (dan jg yg suka astrologi) psti tahu kalau gerhana bulan terjadi malam tadi! sial! sial! sial! tahu begitu kuturuti istriku untuk memandang bulan di tengah malam. kami memang suka melakukannya, mungkin karena kami mempunyai kesamaan.
kesamaan yang dimiliki oleh bulan, burung hantu, ular dan musang.
kami merasa nyaman hidup di malam hari....
ps : maaf kepada teman2 nokturnalku yg lain krn belum diceritakan di postingan ini. postingan selanjutnya, OK?
No comments:
Post a Comment