Thursday, December 08, 2005

pembohong paling munafik

"aku tidak begitu semangat untuk menemuimu. toh tidak ada yang istimewa. ketika seorang teman menyebut namamu, aku cuma menanyakan kabar darinya. yang sepertinya masih terlalu biasa. tapi daripada keliling kota metropolis di akhir minggu hanya dengan 2 orang teman yang 'batangan' semua? lumayanlah. paling2 cuma mendengar celotehan cewek2 abg yang seringkali membuatku muak dan ingin muntah. sumpah! kamu, dia, mereka, semua sama saja kan? sama sekali tidak ada yang istimewa!

melewati jalanan yang dipenuhi sinar lampu2 kota berwarna-warni, aku lebih memfokuskan mataku pada lalu lintas yang berseliweran saling mendahului. meskipun aku sedikit nyasar, tapi itu lebih kepada aku lupa kemana arah tujuanku. aku juga manusia biasa yang punya sifat lupa...

sebuah obrolan di bawah tebaran bintang-bintang semrawut dan bulan yang seperti mengejek langsung kepadaku. beberapa gelas kosong yang entah untuk apa ditenggak habis isinya. sebuah bong bohongan yang norak. canda2 garing yang rasanya terlalu basi untuk dibicarakan. sama sekali tidak ada yang istimewa!

aku tidak peduli kamu duduk sama siapa, ngobrol sama siapa, mendengar ucapanku atau tidak, bercengkrama tentang apa, bagus atau tidak kalau difoto, mati atau hidup..., bukan urusanku! kamu ya kamu, aku punya kehidupan sendiri yang terlalu berharga untuk dijual murah.

jangan berbasa-basi denganku! adalah lebih baik kamu ungkapkan dengan jujur kalau laki2 yang phobia sama kecoa ini tak lebih bernilai dari seekor kecoa itu sendiri. diinjak kaki bersepatu bot atau dikeprak pakai gulungan koran 'lampu merah' bekas, sama sensasinya. hambar...

jadi ketika aku tahu kamu tidak bisa pergi malam itu, aku tidak peduli. jalanku untuk kembali masih jauh, masih butuh 4 jam lagi dengan kendaraan pribadi. dan malam sudah terlalu larut, padahal aku masih harus mampir ke suatu tempat. kamu lagi apa di rumah, kamu kecewa tidak bisa menikmati lagu2 r&b live, apa yang bisa terjadi kalau kamu ada, semuanya tidak akan menambah kesenangan di malam itu. tidak ada yang istimewa.

tidak ada sama sekali!!!"

sampai disini mungkin hatimu cukup panas dan menambah lebih dari satu lagi alasan untuk memastikan apa yang telah kamu lakukan. hanya saja kamu ingat2 lagi, apa judul posting ini. tapi, kupikir adalah tidak adil bagi orang lain yang kurang bisa mengerti jalan pikiranku. daripada membedah tengkorak mereka dan memasangnya dengan elektrode2 peningkat kemampuan daya pikir, sebaiknya kuterjemahkan seperti apa yang seharusnya diberi judul "kepolosan paling lugu" :

"aku begitu bersemangat bisa kembali, meski kemungkinan untuk bisa menemuimu hanya 1 diantara seribu. kuketikkan nomormu di ponsel temanku dan menyuruhnya mendial. sungguh sebuah seurprise mengetahui kesediaanmu bersama yang lain untuk bertemu (meski sempat kupikir itu karena ketidaktahuanmu akan kedatanganku?). mungkin hanya sebuah pertemuan biasa, tapi setiap detik begitu istimewa. aku tidak mengharapkan banyak waktu, cukup beberapa detik asalkan ekspresi yang kulihat selama ini di foto benar2 nyata dimiliki seseorang yang ada di hadapanku. bisa kuhirup wanginya, bisa kusentuh kulitnya, bisa kubelai rambutnya, meski mungkin juga aku tidak mempunyai izin untuk itu.

kaca spion bukan cuma berfungsi mengawasi kendaraan di belakangmu, tapi juga penumpang yang duduk menyertaimu. dan hal itu lebih mudah dilakukan daripada mencuri pandang saat duduk berhadapan, akan lebih mudah tertangkap basah. tapi keterlaluan juga kalau bahan bakar kendaraan habis cuma untuk sedikit momen melihat wajah dari pantulan kaca spion. aku harus menghentikan bualan tentang 'ups-sepertinya-gw-gak-tau-kita-ada-dimana' atau 'lho-koq-sudah-ada-di-blok-m-lagi'.

mungkin bagimu terlalu sentimentil menikmati malam dibawah taburan bintang dihiasi ornamen2 dan aksesoris2 yang berkelap-kelip. apalagi bisa duduk menikmati absolute vodka dan marlboro. bagimu mungkin hal biasa, tapi menyaksikanmu melakukannya adalah hal yang istimewa. meski supaya tidak terlalu kutunjukkan hal itu, kubentengi diriku selayaknya laki2 yang menyebalkan, angkuh, sombong, tinggi hati dan melecehkan derajat perempuan!!!

kupikir aku berhasil, tapi tak bisa kumenafikan diriku dan Tuhan kalau aku begitu menyesalinya. aku begitu takut untuk meminta (selain sebuah suruhan yang terdengar seperti tidak peduli apa jawaban darimu). aku terlalu cemburu untuk melihatmu bersama temanku (meski lirikan mata seorang berkacamata hampir selalu bisa tersembunyikan saat membalasnya dengan mengakrabkan diri dengan temanmu).

buah dari hasil semua itu adalah mencoba menyepelekan kata2 standarmu dan senyuman mirismu. bagaimanapun, aku menganggapnya istimewa meski mungkin nilainya jauh dari itu. meski hanya sesaat saja kamu duduk disampingku, aku cukup merasa seperti remaja yang pertama kali bersentuhan dengan perempuan (ekspresiku seperti tidak ambil peduli).

saat datang malam terakhir yang sebenarnya tidak perlu ada, aku menunggumu. aku tahu kamu tidak akan datang. tapi aku tidak bisa bohong kalau harapanku untuk sekali lagi melihat hidung mancungmu, telah hilang. semua orang menertawakanku, dan aku sadar kalau mereka benar.

keterlaluan mungkin bila kukatakan bukan lamanya waktu bisa bertemu denganmu, tapi 'ada'-nya kesempatan untuk menghirup aroma tubuhmu yang samar menggelitiki. aku (harus) sudah cukup puas untuk itu.

bagaimanapun, kamu begitu istimewa.

meski kamu bukan milikku..."

cukup jelaskah?

apa aku salah?

dengan mengatasnamakan Tuhan, beranikah kamu ungkapkan dengan jujur dan terbuka?

2 comments:

ame said...

bwahahahahahaha...

*ngakak*

ngangkat jari telunjuk, di zigzag dari atas kebawah...

*cemburu nih yeee*

tenang aja, komitmen saya jelas...

saya ngga mau jadi adik bungsu!!!

:D

Anonymous said...

buset......
ck...ck...ck....
kapan ke bogor lagi??
jalan lagi nyook???
hoahoahoahaohoahoahoa...
tabah ya sayang...
miss you setan...