Friday, December 16, 2005

ibuku

ibuku seorang lulusan sma yang bekerja di sebuah perusahaan bumn. meskipun hanya tamatan sma, karir ibuku termasuk bagus. mungkin karena buah pikirannya lumayan layak diperhitungkan sehingga kini ia menjabat sebagai kepala bagian. ia seorang yang kritis, pekerja keras, galak kepada musuh namun tetap ramah terhadap teman. pikiran ibuku tidak terlalu kolot tapi juga tidak terlalu modern (mungkin lebih tepat bila dikatakan: kolot untuk beberapa masalah, namun cukup modern dalam menghadapi masalah lain). mungkin hal itulah yang membuat bapakku naksir ibuku dulu ketika masih di sumatra (mereka menikah di jawa kemudian merantau ke sumatra).

ada satu cerita yang baru saja terjadi beberapa hari ke belakang (sebelum saya menulis blog ini) ketika ibu, adik dan bibiku berwisata ke melaka (malaysia). peristiwa ini semakin menambah penilaianku terhadap ibuku yang suka rada-rada unik (hampura, mih... he he he!). beberapa kisah tentang bersih dan rapinya kota kuala lumpur sebenarnya sebuah hal biasa bagi beberapa orang yang baru pertama kali ke sebuah kota besar di luar negeri (biasanya kalau sudah pernah ke tempat itu sebelumnya, meski di luar negeri, penilaian itu sedikit berkurang). peristiwa itu terjadi di hari kedua ibu, adik dan bibiku berada di kuala lumpur.

ibu dan adikku diajak bibiku ke suatu tempat dengan mengendarai (lebih tepat "menaiki") skyway (kereta gantung). tentu saja ibu dan adikku tertarik karena diceritakan sebelumnya oleh bibiku bahwa tempat itu indah sekali.
"ibu sama neneng (adikku) naik skyway sampai tinggi sekali. uh, lebih tinggi dari puncak (bogor) kaya'nya. ibu tuh sampai ngga berani ngeliat ke bawah! padahal pemandangannya indah sekali."
sebenarnya aku sempat berfikir saat itu. ada 2 hal yang mengacu pada satu tempat yang terkenal di malaysia : skyway dan puncak (dataran tinggi). tempat itu bernama...
"tanah genting. ibu pikir, tanahnya mungkin dulu suka dipakai untuk genting atau memang tanahnya genting (gersang; berbahaya; dst.)"
wedew? ternyata bener, ibuku ke tanah genting. tapi jangan-jangan ibuku...
"nggak tahu itu tempat apa. ibu kira tempat wisata seperti puncak tapi ada ancolnya (maksudnya mungkin wahana-wahana dunia fantasi, hotel, dst.). cuma koq banyak orang bawa-bawa kopor, taunya mereka itu ke sana pada mau..."
"judi" aku menyambung.
"lho, koq kamu tahu?"
wedew? masa nggak tahu?
"iya, disana tuh seperti las vegas aja. banyak orang indo (indonesia, bukan indo blasteran...) lho! waktu dibilang orang-orang yang bawa kopor itu isinya duit semua, ibu ngga percaya. tapi pas ngeliat mereka ke kasir (maksudnya penukaran koin untuk berjudi.), eh beneran! isinya duit semua!"
tentu saja bibiku bukan mau mengajak ibuku maen judi di tanah genting. lebih karena tempat itu memang indah. tapi lucu juga mungkin ngebayangin ibuku seorang wanita sunda berkerudung maen poker di tanah genting (ampun, mih! hampuraaa... ngan heureuy hungkul!).
"nah, waktu itu khan ibu udah cape. jadi waktu neneng dan bibi kamu nyari coklat, ibu nunggu di deket kursi pijat. ibu pikir khan, enak juga kali lagi pegel trus dipijitin. tapi ibu ngga tahu dimana beli koinnya (ibuku kira seperti kursi pijat yang sering disewakan di beberapa mall di negara kita). terus di kursi sebelahnya ada laki-laki ngeliatin aja. cakep lho!"

ini percakapan ibuku dan laki-laki itu:
laki-laki itu (lli) : duduk aja bu, disini. enggak bayar koq!
ibuku (i) : lho, situ orang indonesia ya?
lli : iya. ibu juga khan? saya tahu koq.
i : oh
lli : duduk aja, bu. saya juga pegel-pegel nih, dari kemarin belum tidur.
i : oh iya (sambil terus duduk di kursi pijat). mas dari mana asalnya?
lli : jakarta bu. kalo ibu?
i : bogor
lli : oh ya? saya kesini jg sama temen saya yang dari bogor. ibu sudah berapa hari di sini?
i : baru kemarin sampai. kalo mas sudah dari kapan?
lli : em... di sini sih belum sebulan. tapi saya sudah empat bulan keliling-keliling.
i : oh, lagi dinas luar ya?
lli : dinas luar? ah, enggak. lho, ibu sedang apa disini?
i : ah jalan-jalan aja.
lli : lho, jalan-jalan doank? ngga ibadah?
ibuku mikir, apa di tanah genting ada tempat wisata relijius?
i : maaf ya mas. ibadah apa ya?
lli : (tertawa) ibadah bu. judi, berjudi lha...
i : astagfirullah allazim. judi koq ibadah?
lli : (tertawa) ya gitu deh, bu.
i : jadi empat bulan itu...
lli : ya judi lha, bu. kemarin dari maccau, singapur, ya keliling-keliling lah.
ibuku istighfar lagi.
i : mas selama empat bulan itu maen judi, nggak pulang-pulang?
lli : ya belum. habis, belum menang. malu mau pulang. kemarin saya jadi ngelego escudo saya buat modal lagi.
i : escudo?
lli : iya, saya sudah habis 350 jt belum menang juga.
i : rupiah?
lli : ringgit (jadi kira-kira 700-800 jt rupiah).
ibuku bengong (ngitung-ngitung berapa 350 jt dalam rupiah) terus bengong lagi, terus istighfar lagi.
i : waduh? banyak amat?
lli : (tertawa lagi. mungkin senang juga ketemu ibu-ibu sunda yang lucu. heuheuheu...) saya sih mendingan bu. temen saya tuh, bego banget. dia udah habis... kira-kira kalau rupiah ya... 18 em (milyar) kali ya?
ibuku istighfar sambil ngelus dada, sementara laki-laki itu cuma senyum-senyum aja.
i : waduh, kalau dibuat rumah miskin (maksudnya rss) aja bisa jadi berapa biji ya?
lli : ya jadi banyak bu! (terus tertawa)
i : memangnya keluarga ngga marah?
lli : (tertawa) bu, gini-gini saya sudah berkeluarga lho. anak saya empat. istri sih dulu suka protes, tapi lama-lama cape' dia ngomong terus saya biarin aja.
i : anak-anak tahu?
lli : tahu koq.

mungkin ibuku waktu itu wajahnya jadi demikian imut karena bengong. yang jelas, laki-laki itu jadi tertarik untuk terus ngobrol. tidak lama setelah itu adik dan bibiku datang, disusul kedua teman laki-laki itu yang tadi diceritakan salah satunya berasal dari bogor. ketiga laki-laki itu kemudian berpamitan untuk kembali berjudi.
lepas dari benarnya cerita laki-laki itu, jelas membuat mata ibuku semakin terbuka. di indonesia ini juga ada orang-orang yang duitnya hampir tidak terbatas tapi hidupnya banyak dihabiskan dengan having fun.

well, welcome back to indonesia, mom!

No comments: