Sunday, October 30, 2005

jeritan hati sebuah boneka

salahkah bila aku menjerit saat ini? meneriakkan kata-kata penyesalan karena mengingat betapa aku menghabiskan begitu banyak waktu tanpa menikmati apa yang sebenarnya bisa kuraih? tubuhku cukup tinggi untuk menggapai dahan yang paling tinggi. kakiku cukup kuat untuk berlari mengejar matahari. otakku cukup pintar untuk menelurkan ribuan ide-ide. hartaku cukup banyak untuk memberi makan semua penduduk miskin di dunia. tapi kenapa aku tidak mendapat kesempatan itu?

duniaku seperti kotak sabun, kubus. hidupku bagaikan lumpur, pekat. musikku ibarat detak jam, statis.

apakah aku salah bila kini aku memberontak? meneriakkan yel-yel perjuangan? menyebarkan semangat revolusi? memprovokasi para petani untuk mengangkat garpu-garpu tanah dan cangkul-cangkul mereka? mengorganisir pasukan berani mati? salahkah?

teriakkan-teriakkan itu serasa menggema dalam kepalaku! hatiku menangis mendengar berita-berita miris. hidungku menciumi aroma bangkai. aku jelas-jelas merasakan denyut jantung mereka, mendengar nafas mereka, mencium bau keringat mereka. aku berada di antara mereka.

bukan, aku berdiri di depan mereka!

aku ingat betapa belenggu itu demikian kuat selayaknya aku mengerti sendi-sendi yang bisa mengantarkanku pada kebebasan. aku ingat bagaimana alam pikiran bawah sadarku meledak oleh ketidakturutan perilakuku yang teraniaya. bahkan kreativitasku dibunuh!

mulai detik ini, tidak seorangpun yang bisa mengendalikanku! tidak seekor mahlukpun yang bisa melarangku. aku seorang bebas! pikiranku seluas langit dan bumi! gerakanku tanpa batasan energi!

kupandangi dalang itu dengan tajam. kulihat roman mukanya yang ketakutan. kugerakkan tanganku seraya kendali tungkaiku menjelma menjadi bilah-bilah pisau tajam. jauh lebih tajam daripada silet, jauh lebih berkarat daripada kapal karam, jauh lebih beracun daripada ular, jauh lebih menyakitkan daripada siksa kubur!

aku bukan Tuhan, tapi aku punya kendali atas diriku sendiri sebagaimana Tuhan menganugrahkannya padaku. seperti saat ini saat kudekati dalang itu dengan perlahan, menikmati setiap langkahku yang bergemeletuk tidak konstan (bukan karena ragu atau lumpuh, tapi karena betapa menyenangkan mendengar kengerian sutradara itu setiap mendengar bunyi langkahku!) agar terbayar penderitaanku selama ini...

maaf, bukan aku durhaka. maaf, bukan aku pengkhianat. sekali lagi maaf, aku bukan tidak tahu berbalas budi! aku hanya menerangkan dengan jelas agar kamu mengerti betapa sebuah ledakan hanya dapat tercipta bila udara termampatkan. jarum hanya bisa menusuk bila ditekan. tali hanya bisa mencekik bila ditarik. seperti peluru hanya bisa membunuh bila pelatuk itu ditarik.

Tuhan, terima kasih atas kesempatan yang diberikan olehMu kali ini hingga aku bisa menikmati kesempatan ini. merasakan segarnya darah yang memandikanku. mendengar lagu-lagu seriosa nan indah yang dinyanyikan dari tenggorokannya yang dibanjiri ketakutan. sungguh, betapa sensasi itu jauh lebih indah daripada menyenggama gadis muda nan cantik lagi perawan! heroin dan candu pun tak lebih memabukkan!

kupandangi sekali lagi tubuh penjajah itu menggeliat sejalan ajalnya menjelang sangat perlahan-lahan.

perlahan dan perlahan...

lambat dan melambat...

pelan.....

lambat........

lama............

b...e...g...i...t...u.........l...a...m...a.......

No comments: