malam ini aku melihat hantu. biji bola mata coklatnya memudar hingga putih pucat, menyisakan pupil kecil hitam saja yang dapat kulihat. wajah tirus itu biasanya tembam berisi (seperti pengakuannya), hingga aku berfikir bahwa inilah yang dinamakan halusinasi. pemandangan berbagai metafisik materi yang membentuk satu figur tak nyata, menari-nari bagai geliat lidah api yang membakar tumpukan kayu-kayu kering. tampak, tapi tidak ada. keberadaanya merupakan suatu relativitas.
ringan dan tenang ia melayang hingga berhenti di satu posisi yang memperlihatkan seluruh tubuhnya. dengan kedua tangan lemah bagai tak bertulang, ia mengajakku untuk mendekat. begitu dekat aku menghampirinya hingga bila tertunduk sedikit saja kepalaku, tersentuhlah dahi berponi panjang itu oleh ujung hidungku. kemudian bibir keringnya membuka sebagian, mengucapkan kata-kata yang cuma bisa kumengerti sendiri. dalam bahasa sandi, terenkripsi acak, didengar dengan membuka mata hati tertulus. perandaian itu mungkin dapat kutuliskan:
"dalam jiwa yang kosong tanpa raga, dalam kegelapan malam tanpa rembulan, dalam kerinduan tanpa berkesampaian, dalam senandung kidung tanpa melodi, dalam ungkapan penuh rima. perhatikanlah aku...
aku ingin semuanya berkesudahan, keabadian ini cuma siksaan. mengapa ribuan jawaban darimu cuma melahirkan jutaan pertanyaan lain? aku ingin hidup sebagaimana indahnya warna-warni kembang kemboja yang disuburkan oleh jasadku. kenapa kamu datang justru hanya untuk berpamitan denganku? dengan ketenangan bagai danau di pulau tanpa nama, aku mendengarmu. dengan keriuhan seperti kelelewar yang keluar saat langit mulai ditinggalkan cahaya surya, kuungkapkan padamu. retorika tetaplah sebuah retorika, jawabannya tak perlu dilafalkan dengan lidah (sedangkan kulihat air matamu kembali menitik seketika titik penglihatanmu jatuh di ujung lidahku yang lama tak terbasahi liur). cukuplah seperti yang kita lakukan saat ini, mengartikan dengan bebas eksplisitnya tarian purnamaku."
aku cuma bisa tertegun saat daun-daun kering mengiringi gerakan lemah gemulainya menarikan ribuan legenda masa lalu, beraktingkan ribuan wajah dengan karakter yang berbeda-beda. alunan musik tanpa suara vokalis terdengar sayup-sayup (mungkin campuran aliran barok dan romantik...) mendendangkan nada-nada pentatonik, kadang jelas kadang kabur. ingin rasanya kulangkahkan kakiku mengikuti gerakan kakinya, sampai kemudian kuurungkan niatku sesegera aku menyadari tidak ada lagi tempat untuk berpijak selain dimana aku berdiri. kemana jalan setapak yang baru saja kulewati?
kenyataanya, aku hanya membutuhkan sebuah hati bersih untuk mengartikan kebersihan hati...
aku semakin yakin bahwa figur didepanku adalah hantu! dengan penuh rasa penasaran aku mengikutinya kemanapun ia pergi, semampuku. dengan penuh keinginan aku mendengar celoteh tawa kecilnya yang jarang-jarang terdengar, sekumengerti. dengan penuh perhatian aku memperhatikan fabel-fabel yang menganalogikan kehidupannya, sepenuh ikhlasku.
malam ini kurasakan tahun cahaya bagaikan sedetik kebersamaan.
No comments:
Post a Comment