malam in kutinggalkan hantu. eter2 membentuk sosok ganjil itu melayang ke kahyangan. dingin hembusan angin yang tercipta dari helaian selendangnya masih terasa hingga menembus tulang rusukku. tatapan kosongnya menulari caraku memandang dunia. kenapa bayangan-bayangan itu tetap ada meski tubuh mayanya telah pergi?
"kita cuma cerita novel picisan! kita sendiri yang menokohkan karakter-karakternya, menentukan plotnya, dan mengakhirinya sesuai keinginan kita (atau sesuai norma-norma yang berdiri di sekeliling kita?)!!! namun aku tetap menikmatinya meski masih tersisa sedikit penyesalan, seperti yang kuharapkan kamu merasakannya. sekarang lembar terakhir telah habis. Tidak ada secuil kertaspun untuk menuliskan daftar transalasi kata-kata rumit yang tertera di karya tulis ini, atau daftar pustaka, atau bibliografi, apalagi daftar riwayat hidup! selain kata yang seharusnya ada di halaman terakhir : "tamat". aku berikan kekuasaan padamu untuk menuliskannya. jemariku telah lemah lunglai, bibirku telah kaku kering sebagaimana gersangnya airmataku."
aku menolak mengangkat pena...
"kalau kamu benar-benar menyayangiku, lakukanlah! karena hanya kamu yang masih memiliki fisik nyata! karena hanya kamulah yang masih bisa menggunakan kedua kakimu untuk melangkah! karena hanya kamulah yang seharusnya lebih bisa memahami dunia ini! bagaimanapun, kita masih bisa bertemu saat doa-doa yang kau lafadzkan menyebut namaku dalam kalimat-kalimat tawadhu. bagaimanapun, dunia nyata dan ghaib tetaplah satu, ciptaan Khalik. bagaimanapun, akhir dari cerita ini semua bergantung padamu. aku hanyalah sosok imajinasimu! ambisimu! egomu! birahimu! kreativitasmu!"
aku dengan ragu-ragu meraih papan keyboard (bagiku lebih mudah mengetik tombol-tombol daripada menulis di lembaran kertas...)
"mengertilah, aku terkadang membutuhkanmu. meski aku tidak tahu kenapa kita terlanjur hidup di dunia yang berbeda. aku tetap membutuhkanmu. meski aku tidak tahu kenapa kita masih saja hidup di dunia yang berbeda. aku membutuhkanmu dari kemarin, sekarang dan hingga nanti. meski begitu besar keyakinanku akan benarnya kehidupan kita berdua saat ini. lakukanlah, seperti yang telah kamu niatkan sebelumnya! lakukanlah, seperti yang telah kamu ramalkan sebelumnya!"
kunikmati detik-detik terakhir (mungkin) untuk dapat melihatnya dengan sadar dalam keadaan yang paling memabukkan.
"selamat tinggal... peraduanku menunggu..."
memandangnya terbang melayang ke langit seperti melihat keajaiban dunia. meski kemudian mataku kehilangan sosoknya, kudengar bisikan-bisikan yang menandakan ia masih dapat memperhatikanku seutuhnya.
"terima kasih. semua benar-benar berarti untukku..."
seberapa besar ungkapan "benar-benar" dalam menegaskan kata "berarti"? aku tidak peduli. apapun yang terjadi, aku tetaplah aku. aku hidup disini, dan dia hidup disana. aku merelakannya meski harapan tak akan pernah pudar. aku menajalani kehidupan ini dengan ikhlas karena aku yang pertama kali memilih untuk menentukan sikap, menyatakan pendapat, meneliti keadaan, dan menetapkan pilihanku!!!
kemudian pada secuil tempat yang tersisa dari entah berapa banyak lokasi, untuk menuliskan kata terakhir yang menentukan akhir dari cerita ini:
"bersambung..."
No comments:
Post a Comment