hari ini aku mencumbu hantu. atau ia yang mencumbuku? atau itu cuma khayalan bodoh? mimpi basah? padahal kurasakan jelas dingin auranya saat bayangan samar tanpa fisik itu menembus ragaku. bagai angin musim dingin ketika aku berada di antaranya (atau ia yang merasukiku?). jauh lebih memabukkan daripada arak! jauh lebih panas daripada bara api! jauh lebih putih daripada heroin! jauh di luar imajinasi terliarku. aku tergilas nikmatnya kebingungan, melemparku ke dalam rumitnya misteri gaib.
kemudian terdengar dialog seperti yang terdapat hampir di semua skenario drama:
"aku membutuhkanku kadang-kadang..."
sebenarnya aku siap setiap saat, dengan cara yang berbeda-beda.
"kenapa semuanya menjadi tampak berlebihan?"
karena aku seorang jujur, kejujuran dipandang aneh saat ini.
"aku menikmati setiap detik bersamamu!"
aku sangat menghargai bagaimana kamu menghiburku.
"mengapa harus aku? mengapa harus kamu? mengapa kita? aku berada dalam
dilema yang menjengkelkan!"
tidak pernah kurasakan lagi masalah syaraf di kepalaku sejak operasi besar yang kualami setahun lalu, dan sekarang serangan migrain mengisi keseharianku.
"meski kenyatannya kita memiliki benyak kesamaan..."
perbedaan kita dapat dihitung dengan jari, namun kesenggangan itu
tampak jelas begitu lebar dan dalam!
"bukan berarti kamu memilikiku!!!"
bukankah itu yang selalu kucoba mengungkapkannya padamu selama ini?
aku tidak akan pernah lelah menjelaskan, dengan berjuta frasa, berbagai bingkai, bermacam-macam kalam, beraneka dialektika, hanya sekedar membuatmu mengerti? semua daya tarik yang ada padamu, tetap masih tabu untukku. segala kata-kata dan sikap nyata dariku, tetap tidak selalu ditujukan padamu. kamu begitu istimewa saat ini (dan bisa kupastikan sama hingga nanti) namun bukan berarti aku akan tersungkur untuk sujud menyembahmu!
kamu begitu indah kawan. kamu begitu cantik, kasih. tapi lolongan nan melengking itu masih dapat menjadi gaung yang saling bersahutan. abstraksi chaotic yang rumit, namun begitu terang untuk dipelajari karena keindahan daya tariknya. bayangkan sebuah permata, aku mengasahnya siang malam bermandikan peluh hingga ia tampak begitu indah
bersinar dan cantik dikenakan. kemudian percayailah ini, meski kecemburuanku memuncak saat permata itu berpindah tangan dengan cara yang halal, aku memandangnya dengan penuh kebanggaan karena hasil karyaku menambah beragam nilai estetika pemiliknya.
usai sudah mulutku memaparkan, kulihat dengan penuh harap ke matanya, lurus dan terfokus.
tapi aku hanya melihat kehampaan dan (lagi-lagi) tanda tanya sebagai alasan menafikkan emosi dan intelejensi.
aku ingin mencumbu hantu itu sekali lagi...
No comments:
Post a Comment