salahkah bila aku menjerit saat ini? meneriakkan kata-kata penyesalan karena mengingat betapa aku menghabiskan begitu banyak waktu tanpa menikmati apa yang sebenarnya bisa kuraih? tubuhku cukup tinggi untuk menggapai dahan yang paling tinggi. kakiku cukup kuat untuk berlari mengejar matahari. otakku cukup pintar untuk menelurkan ribuan ide-ide. hartaku cukup banyak untuk memberi makan semua penduduk miskin di dunia. tapi kenapa aku tidak mendapat kesempatan itu?
duniaku seperti kotak sabun, kubus. hidupku bagaikan lumpur, pekat. musikku ibarat detak jam, statis.
apakah aku salah bila kini aku memberontak? meneriakkan yel-yel perjuangan? menyebarkan semangat revolusi? memprovokasi para petani untuk mengangkat garpu-garpu tanah dan cangkul-cangkul mereka? mengorganisir pasukan berani mati? salahkah?
teriakkan-teriakkan itu serasa menggema dalam kepalaku! hatiku menangis mendengar berita-berita miris. hidungku menciumi aroma bangkai. aku jelas-jelas merasakan denyut jantung mereka, mendengar nafas mereka, mencium bau keringat mereka. aku berada di antara mereka.
bukan, aku berdiri di depan mereka!
aku ingat betapa belenggu itu demikian kuat selayaknya aku mengerti sendi-sendi yang bisa mengantarkanku pada kebebasan. aku ingat bagaimana alam pikiran bawah sadarku meledak oleh ketidakturutan perilakuku yang teraniaya. bahkan kreativitasku dibunuh!
mulai detik ini, tidak seorangpun yang bisa mengendalikanku! tidak seekor mahlukpun yang bisa melarangku. aku seorang bebas! pikiranku seluas langit dan bumi! gerakanku tanpa batasan energi!
kupandangi dalang itu dengan tajam. kulihat roman mukanya yang ketakutan. kugerakkan tanganku seraya kendali tungkaiku menjelma menjadi bilah-bilah pisau tajam. jauh lebih tajam daripada silet, jauh lebih berkarat daripada kapal karam, jauh lebih beracun daripada ular, jauh lebih menyakitkan daripada siksa kubur!
aku bukan Tuhan, tapi aku punya kendali atas diriku sendiri sebagaimana Tuhan menganugrahkannya padaku. seperti saat ini saat kudekati dalang itu dengan perlahan, menikmati setiap langkahku yang bergemeletuk tidak konstan (bukan karena ragu atau lumpuh, tapi karena betapa menyenangkan mendengar kengerian sutradara itu setiap mendengar bunyi langkahku!) agar terbayar penderitaanku selama ini...
maaf, bukan aku durhaka. maaf, bukan aku pengkhianat. sekali lagi maaf, aku bukan tidak tahu berbalas budi! aku hanya menerangkan dengan jelas agar kamu mengerti betapa sebuah ledakan hanya dapat tercipta bila udara termampatkan. jarum hanya bisa menusuk bila ditekan. tali hanya bisa mencekik bila ditarik. seperti peluru hanya bisa membunuh bila pelatuk itu ditarik.
Tuhan, terima kasih atas kesempatan yang diberikan olehMu kali ini hingga aku bisa menikmati kesempatan ini. merasakan segarnya darah yang memandikanku. mendengar lagu-lagu seriosa nan indah yang dinyanyikan dari tenggorokannya yang dibanjiri ketakutan. sungguh, betapa sensasi itu jauh lebih indah daripada menyenggama gadis muda nan cantik lagi perawan! heroin dan candu pun tak lebih memabukkan!
kupandangi sekali lagi tubuh penjajah itu menggeliat sejalan ajalnya menjelang sangat perlahan-lahan.
perlahan dan perlahan...
lambat dan melambat...
pelan.....
lambat........
lama............
b...e...g...i...t...u.........l...a...m...a.......
Sunday, October 30, 2005
today's mp3 playlist
not in alphabetical list
click the title to view the lyric
(tidak diurutkan berdasarkan alfabet
klik judul lagu untuk melihat lirik)
1. indra l feat nania - sedalam cintamu
2. tangga - terbaik untukmu
3. padi - siapakah gerangan dirinya
4. tangga - hebat
5. delon feat winda - lilin-lilin kecil
6. glenn fredly - januari
7. dewa - roman picisan
8. gigi - cinta terakhir
9. maliq & d'essential's - terdiam
10. once & victorian orchestra - dealova
11. ari lasso - perbedaan
12. marcell - semusim
13. dewa - kirana
14. chrisye - seperti yang kau minta
15. radja - jujur
16. maliq & d'essential's - untitled
17. tere - dosa termanis
18. dewa - pupus
19. fariz rm - sakura (remix)
20. indonesian idol 2 - cinta
21. ratu - teman tapi mesra
22. agnes m & dhani - cinta mati
23. audy - menangis semalam
24. erros feat okta - gie
25. helena - sekali cinta tetap cinta
26. white shoes & the couples company - senandung maaf
27. radja - tulus
28. voo - aku kecewa
29. gigi - terbang
30. radja - manusia biasa
31. padi - sobat
32. padi - kasih tak sampai
33. element - cinta sejati
34. glenn fredly - akhir cerita cinta
click the title to view the lyric
(tidak diurutkan berdasarkan alfabet
klik judul lagu untuk melihat lirik)
1. indra l feat nania - sedalam cintamu
2. tangga - terbaik untukmu
3. padi - siapakah gerangan dirinya
4. tangga - hebat
5. delon feat winda - lilin-lilin kecil
6. glenn fredly - januari
7. dewa - roman picisan
8. gigi - cinta terakhir
9. maliq & d'essential's - terdiam
10. once & victorian orchestra - dealova
11. ari lasso - perbedaan
12. marcell - semusim
13. dewa - kirana
14. chrisye - seperti yang kau minta
15. radja - jujur
16. maliq & d'essential's - untitled
17. tere - dosa termanis
18. dewa - pupus
19. fariz rm - sakura (remix)
20. indonesian idol 2 - cinta
21. ratu - teman tapi mesra
22. agnes m & dhani - cinta mati
23. audy - menangis semalam
24. erros feat okta - gie
25. helena - sekali cinta tetap cinta
26. white shoes & the couples company - senandung maaf
27. radja - tulus
28. voo - aku kecewa
29. gigi - terbang
30. radja - manusia biasa
31. padi - sobat
32. padi - kasih tak sampai
33. element - cinta sejati
34. glenn fredly - akhir cerita cinta
dalam jiwa yang kosong (sebuah pengantar)
inilah trilogiku yang pertama kali dipublikasikan (meski lewat blog, hehehe!). 3 buah essay yang melukiskan perasaanku ketika berada di sebuah rumah peristirahatan milik seorang teman. saat itu aku sedang duduk sendirian setelah mendapat berbagai kabar yang membuat kepalaku tiba-tiba terserang migrain (padahal sejak setahun lalu aku tidak pernah mengalaminya!!!). tak bisa kupungkiri, suasana malam di bulan oktober yang dingin, lagu-lagu mp3 bertemakan hubungan antar manusia dan kematian, dan lingkungan peristirahatan yang tenang, menambah ide-ideku untuk menulis. bahkan kupastikan sakitnya kepalaku justru memperkaya tiap kata yang kutulis. andai saja puluhan nyamuk-nyamuk vampir itu tidak menggangguku, aku akan menyelesaikannya malam itu juga!
kupikir, mungkin kebanyakan isi blogku akan seperti ini. tapi apa yang dapat kulakukan lagi? ini bukan tulisan dengan nilai komersil, lebih banyak menggambarkan ungkapan hati! meski aku tidak tahu siapa yang akan membacanya, dan kapan, dan apakah menginap cukup lama di hati atau tidak, aku benar-benar tidak terlalu ambil peduli. meski tentu saja segala komentar akan menjadi begitu berarti.
kupikir, mungkin kebanyakan isi blogku akan seperti ini. tapi apa yang dapat kulakukan lagi? ini bukan tulisan dengan nilai komersil, lebih banyak menggambarkan ungkapan hati! meski aku tidak tahu siapa yang akan membacanya, dan kapan, dan apakah menginap cukup lama di hati atau tidak, aku benar-benar tidak terlalu ambil peduli. meski tentu saja segala komentar akan menjadi begitu berarti.
dalam jiwa yang kosong (bagian pertama)
malam ini aku melihat hantu. biji bola mata coklatnya memudar hingga putih pucat, menyisakan pupil kecil hitam saja yang dapat kulihat. wajah tirus itu biasanya tembam berisi (seperti pengakuannya), hingga aku berfikir bahwa inilah yang dinamakan halusinasi. pemandangan berbagai metafisik materi yang membentuk satu figur tak nyata, menari-nari bagai geliat lidah api yang membakar tumpukan kayu-kayu kering. tampak, tapi tidak ada. keberadaanya merupakan suatu relativitas.
ringan dan tenang ia melayang hingga berhenti di satu posisi yang memperlihatkan seluruh tubuhnya. dengan kedua tangan lemah bagai tak bertulang, ia mengajakku untuk mendekat. begitu dekat aku menghampirinya hingga bila tertunduk sedikit saja kepalaku, tersentuhlah dahi berponi panjang itu oleh ujung hidungku. kemudian bibir keringnya membuka sebagian, mengucapkan kata-kata yang cuma bisa kumengerti sendiri. dalam bahasa sandi, terenkripsi acak, didengar dengan membuka mata hati tertulus. perandaian itu mungkin dapat kutuliskan:
"dalam jiwa yang kosong tanpa raga, dalam kegelapan malam tanpa rembulan, dalam kerinduan tanpa berkesampaian, dalam senandung kidung tanpa melodi, dalam ungkapan penuh rima. perhatikanlah aku...
aku ingin semuanya berkesudahan, keabadian ini cuma siksaan. mengapa ribuan jawaban darimu cuma melahirkan jutaan pertanyaan lain? aku ingin hidup sebagaimana indahnya warna-warni kembang kemboja yang disuburkan oleh jasadku. kenapa kamu datang justru hanya untuk berpamitan denganku? dengan ketenangan bagai danau di pulau tanpa nama, aku mendengarmu. dengan keriuhan seperti kelelewar yang keluar saat langit mulai ditinggalkan cahaya surya, kuungkapkan padamu. retorika tetaplah sebuah retorika, jawabannya tak perlu dilafalkan dengan lidah (sedangkan kulihat air matamu kembali menitik seketika titik penglihatanmu jatuh di ujung lidahku yang lama tak terbasahi liur). cukuplah seperti yang kita lakukan saat ini, mengartikan dengan bebas eksplisitnya tarian purnamaku."
aku cuma bisa tertegun saat daun-daun kering mengiringi gerakan lemah gemulainya menarikan ribuan legenda masa lalu, beraktingkan ribuan wajah dengan karakter yang berbeda-beda. alunan musik tanpa suara vokalis terdengar sayup-sayup (mungkin campuran aliran barok dan romantik...) mendendangkan nada-nada pentatonik, kadang jelas kadang kabur. ingin rasanya kulangkahkan kakiku mengikuti gerakan kakinya, sampai kemudian kuurungkan niatku sesegera aku menyadari tidak ada lagi tempat untuk berpijak selain dimana aku berdiri. kemana jalan setapak yang baru saja kulewati?
kenyataanya, aku hanya membutuhkan sebuah hati bersih untuk mengartikan kebersihan hati...
aku semakin yakin bahwa figur didepanku adalah hantu! dengan penuh rasa penasaran aku mengikutinya kemanapun ia pergi, semampuku. dengan penuh keinginan aku mendengar celoteh tawa kecilnya yang jarang-jarang terdengar, sekumengerti. dengan penuh perhatian aku memperhatikan fabel-fabel yang menganalogikan kehidupannya, sepenuh ikhlasku.
malam ini kurasakan tahun cahaya bagaikan sedetik kebersamaan.
ringan dan tenang ia melayang hingga berhenti di satu posisi yang memperlihatkan seluruh tubuhnya. dengan kedua tangan lemah bagai tak bertulang, ia mengajakku untuk mendekat. begitu dekat aku menghampirinya hingga bila tertunduk sedikit saja kepalaku, tersentuhlah dahi berponi panjang itu oleh ujung hidungku. kemudian bibir keringnya membuka sebagian, mengucapkan kata-kata yang cuma bisa kumengerti sendiri. dalam bahasa sandi, terenkripsi acak, didengar dengan membuka mata hati tertulus. perandaian itu mungkin dapat kutuliskan:
"dalam jiwa yang kosong tanpa raga, dalam kegelapan malam tanpa rembulan, dalam kerinduan tanpa berkesampaian, dalam senandung kidung tanpa melodi, dalam ungkapan penuh rima. perhatikanlah aku...
aku ingin semuanya berkesudahan, keabadian ini cuma siksaan. mengapa ribuan jawaban darimu cuma melahirkan jutaan pertanyaan lain? aku ingin hidup sebagaimana indahnya warna-warni kembang kemboja yang disuburkan oleh jasadku. kenapa kamu datang justru hanya untuk berpamitan denganku? dengan ketenangan bagai danau di pulau tanpa nama, aku mendengarmu. dengan keriuhan seperti kelelewar yang keluar saat langit mulai ditinggalkan cahaya surya, kuungkapkan padamu. retorika tetaplah sebuah retorika, jawabannya tak perlu dilafalkan dengan lidah (sedangkan kulihat air matamu kembali menitik seketika titik penglihatanmu jatuh di ujung lidahku yang lama tak terbasahi liur). cukuplah seperti yang kita lakukan saat ini, mengartikan dengan bebas eksplisitnya tarian purnamaku."
aku cuma bisa tertegun saat daun-daun kering mengiringi gerakan lemah gemulainya menarikan ribuan legenda masa lalu, beraktingkan ribuan wajah dengan karakter yang berbeda-beda. alunan musik tanpa suara vokalis terdengar sayup-sayup (mungkin campuran aliran barok dan romantik...) mendendangkan nada-nada pentatonik, kadang jelas kadang kabur. ingin rasanya kulangkahkan kakiku mengikuti gerakan kakinya, sampai kemudian kuurungkan niatku sesegera aku menyadari tidak ada lagi tempat untuk berpijak selain dimana aku berdiri. kemana jalan setapak yang baru saja kulewati?
kenyataanya, aku hanya membutuhkan sebuah hati bersih untuk mengartikan kebersihan hati...
aku semakin yakin bahwa figur didepanku adalah hantu! dengan penuh rasa penasaran aku mengikutinya kemanapun ia pergi, semampuku. dengan penuh keinginan aku mendengar celoteh tawa kecilnya yang jarang-jarang terdengar, sekumengerti. dengan penuh perhatian aku memperhatikan fabel-fabel yang menganalogikan kehidupannya, sepenuh ikhlasku.
malam ini kurasakan tahun cahaya bagaikan sedetik kebersamaan.
dalam jiwa yang kosong (bagian kedua)
hari ini aku mencumbu hantu. atau ia yang mencumbuku? atau itu cuma khayalan bodoh? mimpi basah? padahal kurasakan jelas dingin auranya saat bayangan samar tanpa fisik itu menembus ragaku. bagai angin musim dingin ketika aku berada di antaranya (atau ia yang merasukiku?). jauh lebih memabukkan daripada arak! jauh lebih panas daripada bara api! jauh lebih putih daripada heroin! jauh di luar imajinasi terliarku. aku tergilas nikmatnya kebingungan, melemparku ke dalam rumitnya misteri gaib.
kemudian terdengar dialog seperti yang terdapat hampir di semua skenario drama:
"aku membutuhkanku kadang-kadang..."
sebenarnya aku siap setiap saat, dengan cara yang berbeda-beda.
"kenapa semuanya menjadi tampak berlebihan?"
karena aku seorang jujur, kejujuran dipandang aneh saat ini.
"aku menikmati setiap detik bersamamu!"
aku sangat menghargai bagaimana kamu menghiburku.
"mengapa harus aku? mengapa harus kamu? mengapa kita? aku berada dalam
dilema yang menjengkelkan!"
tidak pernah kurasakan lagi masalah syaraf di kepalaku sejak operasi besar yang kualami setahun lalu, dan sekarang serangan migrain mengisi keseharianku.
"meski kenyatannya kita memiliki benyak kesamaan..."
perbedaan kita dapat dihitung dengan jari, namun kesenggangan itu
tampak jelas begitu lebar dan dalam!
"bukan berarti kamu memilikiku!!!"
bukankah itu yang selalu kucoba mengungkapkannya padamu selama ini?
aku tidak akan pernah lelah menjelaskan, dengan berjuta frasa, berbagai bingkai, bermacam-macam kalam, beraneka dialektika, hanya sekedar membuatmu mengerti? semua daya tarik yang ada padamu, tetap masih tabu untukku. segala kata-kata dan sikap nyata dariku, tetap tidak selalu ditujukan padamu. kamu begitu istimewa saat ini (dan bisa kupastikan sama hingga nanti) namun bukan berarti aku akan tersungkur untuk sujud menyembahmu!
kamu begitu indah kawan. kamu begitu cantik, kasih. tapi lolongan nan melengking itu masih dapat menjadi gaung yang saling bersahutan. abstraksi chaotic yang rumit, namun begitu terang untuk dipelajari karena keindahan daya tariknya. bayangkan sebuah permata, aku mengasahnya siang malam bermandikan peluh hingga ia tampak begitu indah
bersinar dan cantik dikenakan. kemudian percayailah ini, meski kecemburuanku memuncak saat permata itu berpindah tangan dengan cara yang halal, aku memandangnya dengan penuh kebanggaan karena hasil karyaku menambah beragam nilai estetika pemiliknya.
usai sudah mulutku memaparkan, kulihat dengan penuh harap ke matanya, lurus dan terfokus.
tapi aku hanya melihat kehampaan dan (lagi-lagi) tanda tanya sebagai alasan menafikkan emosi dan intelejensi.
aku ingin mencumbu hantu itu sekali lagi...
kemudian terdengar dialog seperti yang terdapat hampir di semua skenario drama:
"aku membutuhkanku kadang-kadang..."
sebenarnya aku siap setiap saat, dengan cara yang berbeda-beda.
"kenapa semuanya menjadi tampak berlebihan?"
karena aku seorang jujur, kejujuran dipandang aneh saat ini.
"aku menikmati setiap detik bersamamu!"
aku sangat menghargai bagaimana kamu menghiburku.
"mengapa harus aku? mengapa harus kamu? mengapa kita? aku berada dalam
dilema yang menjengkelkan!"
tidak pernah kurasakan lagi masalah syaraf di kepalaku sejak operasi besar yang kualami setahun lalu, dan sekarang serangan migrain mengisi keseharianku.
"meski kenyatannya kita memiliki benyak kesamaan..."
perbedaan kita dapat dihitung dengan jari, namun kesenggangan itu
tampak jelas begitu lebar dan dalam!
"bukan berarti kamu memilikiku!!!"
bukankah itu yang selalu kucoba mengungkapkannya padamu selama ini?
aku tidak akan pernah lelah menjelaskan, dengan berjuta frasa, berbagai bingkai, bermacam-macam kalam, beraneka dialektika, hanya sekedar membuatmu mengerti? semua daya tarik yang ada padamu, tetap masih tabu untukku. segala kata-kata dan sikap nyata dariku, tetap tidak selalu ditujukan padamu. kamu begitu istimewa saat ini (dan bisa kupastikan sama hingga nanti) namun bukan berarti aku akan tersungkur untuk sujud menyembahmu!
kamu begitu indah kawan. kamu begitu cantik, kasih. tapi lolongan nan melengking itu masih dapat menjadi gaung yang saling bersahutan. abstraksi chaotic yang rumit, namun begitu terang untuk dipelajari karena keindahan daya tariknya. bayangkan sebuah permata, aku mengasahnya siang malam bermandikan peluh hingga ia tampak begitu indah
bersinar dan cantik dikenakan. kemudian percayailah ini, meski kecemburuanku memuncak saat permata itu berpindah tangan dengan cara yang halal, aku memandangnya dengan penuh kebanggaan karena hasil karyaku menambah beragam nilai estetika pemiliknya.
usai sudah mulutku memaparkan, kulihat dengan penuh harap ke matanya, lurus dan terfokus.
tapi aku hanya melihat kehampaan dan (lagi-lagi) tanda tanya sebagai alasan menafikkan emosi dan intelejensi.
aku ingin mencumbu hantu itu sekali lagi...
Friday, October 28, 2005
dalam jiwa yang kosong (bagian ketiga)
malam in kutinggalkan hantu. eter2 membentuk sosok ganjil itu melayang ke kahyangan. dingin hembusan angin yang tercipta dari helaian selendangnya masih terasa hingga menembus tulang rusukku. tatapan kosongnya menulari caraku memandang dunia. kenapa bayangan-bayangan itu tetap ada meski tubuh mayanya telah pergi?
"kita cuma cerita novel picisan! kita sendiri yang menokohkan karakter-karakternya, menentukan plotnya, dan mengakhirinya sesuai keinginan kita (atau sesuai norma-norma yang berdiri di sekeliling kita?)!!! namun aku tetap menikmatinya meski masih tersisa sedikit penyesalan, seperti yang kuharapkan kamu merasakannya. sekarang lembar terakhir telah habis. Tidak ada secuil kertaspun untuk menuliskan daftar transalasi kata-kata rumit yang tertera di karya tulis ini, atau daftar pustaka, atau bibliografi, apalagi daftar riwayat hidup! selain kata yang seharusnya ada di halaman terakhir : "tamat". aku berikan kekuasaan padamu untuk menuliskannya. jemariku telah lemah lunglai, bibirku telah kaku kering sebagaimana gersangnya airmataku."
aku menolak mengangkat pena...
"kalau kamu benar-benar menyayangiku, lakukanlah! karena hanya kamu yang masih memiliki fisik nyata! karena hanya kamulah yang masih bisa menggunakan kedua kakimu untuk melangkah! karena hanya kamulah yang seharusnya lebih bisa memahami dunia ini! bagaimanapun, kita masih bisa bertemu saat doa-doa yang kau lafadzkan menyebut namaku dalam kalimat-kalimat tawadhu. bagaimanapun, dunia nyata dan ghaib tetaplah satu, ciptaan Khalik. bagaimanapun, akhir dari cerita ini semua bergantung padamu. aku hanyalah sosok imajinasimu! ambisimu! egomu! birahimu! kreativitasmu!"
aku dengan ragu-ragu meraih papan keyboard (bagiku lebih mudah mengetik tombol-tombol daripada menulis di lembaran kertas...)
"mengertilah, aku terkadang membutuhkanmu. meski aku tidak tahu kenapa kita terlanjur hidup di dunia yang berbeda. aku tetap membutuhkanmu. meski aku tidak tahu kenapa kita masih saja hidup di dunia yang berbeda. aku membutuhkanmu dari kemarin, sekarang dan hingga nanti. meski begitu besar keyakinanku akan benarnya kehidupan kita berdua saat ini. lakukanlah, seperti yang telah kamu niatkan sebelumnya! lakukanlah, seperti yang telah kamu ramalkan sebelumnya!"
kunikmati detik-detik terakhir (mungkin) untuk dapat melihatnya dengan sadar dalam keadaan yang paling memabukkan.
"selamat tinggal... peraduanku menunggu..."
memandangnya terbang melayang ke langit seperti melihat keajaiban dunia. meski kemudian mataku kehilangan sosoknya, kudengar bisikan-bisikan yang menandakan ia masih dapat memperhatikanku seutuhnya.
"terima kasih. semua benar-benar berarti untukku..."
seberapa besar ungkapan "benar-benar" dalam menegaskan kata "berarti"? aku tidak peduli. apapun yang terjadi, aku tetaplah aku. aku hidup disini, dan dia hidup disana. aku merelakannya meski harapan tak akan pernah pudar. aku menajalani kehidupan ini dengan ikhlas karena aku yang pertama kali memilih untuk menentukan sikap, menyatakan pendapat, meneliti keadaan, dan menetapkan pilihanku!!!
kemudian pada secuil tempat yang tersisa dari entah berapa banyak lokasi, untuk menuliskan kata terakhir yang menentukan akhir dari cerita ini:
"bersambung..."
"kita cuma cerita novel picisan! kita sendiri yang menokohkan karakter-karakternya, menentukan plotnya, dan mengakhirinya sesuai keinginan kita (atau sesuai norma-norma yang berdiri di sekeliling kita?)!!! namun aku tetap menikmatinya meski masih tersisa sedikit penyesalan, seperti yang kuharapkan kamu merasakannya. sekarang lembar terakhir telah habis. Tidak ada secuil kertaspun untuk menuliskan daftar transalasi kata-kata rumit yang tertera di karya tulis ini, atau daftar pustaka, atau bibliografi, apalagi daftar riwayat hidup! selain kata yang seharusnya ada di halaman terakhir : "tamat". aku berikan kekuasaan padamu untuk menuliskannya. jemariku telah lemah lunglai, bibirku telah kaku kering sebagaimana gersangnya airmataku."
aku menolak mengangkat pena...
"kalau kamu benar-benar menyayangiku, lakukanlah! karena hanya kamu yang masih memiliki fisik nyata! karena hanya kamulah yang masih bisa menggunakan kedua kakimu untuk melangkah! karena hanya kamulah yang seharusnya lebih bisa memahami dunia ini! bagaimanapun, kita masih bisa bertemu saat doa-doa yang kau lafadzkan menyebut namaku dalam kalimat-kalimat tawadhu. bagaimanapun, dunia nyata dan ghaib tetaplah satu, ciptaan Khalik. bagaimanapun, akhir dari cerita ini semua bergantung padamu. aku hanyalah sosok imajinasimu! ambisimu! egomu! birahimu! kreativitasmu!"
aku dengan ragu-ragu meraih papan keyboard (bagiku lebih mudah mengetik tombol-tombol daripada menulis di lembaran kertas...)
"mengertilah, aku terkadang membutuhkanmu. meski aku tidak tahu kenapa kita terlanjur hidup di dunia yang berbeda. aku tetap membutuhkanmu. meski aku tidak tahu kenapa kita masih saja hidup di dunia yang berbeda. aku membutuhkanmu dari kemarin, sekarang dan hingga nanti. meski begitu besar keyakinanku akan benarnya kehidupan kita berdua saat ini. lakukanlah, seperti yang telah kamu niatkan sebelumnya! lakukanlah, seperti yang telah kamu ramalkan sebelumnya!"
kunikmati detik-detik terakhir (mungkin) untuk dapat melihatnya dengan sadar dalam keadaan yang paling memabukkan.
"selamat tinggal... peraduanku menunggu..."
memandangnya terbang melayang ke langit seperti melihat keajaiban dunia. meski kemudian mataku kehilangan sosoknya, kudengar bisikan-bisikan yang menandakan ia masih dapat memperhatikanku seutuhnya.
"terima kasih. semua benar-benar berarti untukku..."
seberapa besar ungkapan "benar-benar" dalam menegaskan kata "berarti"? aku tidak peduli. apapun yang terjadi, aku tetaplah aku. aku hidup disini, dan dia hidup disana. aku merelakannya meski harapan tak akan pernah pudar. aku menajalani kehidupan ini dengan ikhlas karena aku yang pertama kali memilih untuk menentukan sikap, menyatakan pendapat, meneliti keadaan, dan menetapkan pilihanku!!!
kemudian pada secuil tempat yang tersisa dari entah berapa banyak lokasi, untuk menuliskan kata terakhir yang menentukan akhir dari cerita ini:
"bersambung..."
Thursday, October 20, 2005
untuk sebuah ketidakmungkinan
(atau sebuah pemikiran pesimistik???)
pernah berfikir tentang ketidakpastian? pernah berfikir tentang takdir? pernah berfikir kenapa nasib setiap orang berbeda-beda? pernah mendatangi peramal? atau menanyakan kejadian masa depan dari seorang teman yang katanya bisa menghitung kartu? atau membaca ampas kopi?
aku bukan orang yang suka mengumbar janji seenaknya. takdir itu rahasia Tuhan. bahkan Rasulullah saja pernah salah (ingat kisah ketika masa awal-awal dakwah, saat seorang yang meminta sebuah nash tentang suatu kasus, Rasulullah menjanjikannya satu hari tapi kemudian meleset? dan Allah menegurnya bahwa segala nasib, jodoh dan rejeki itu ditanganNya?)!!! adalah bodoh menganggap sesuatu akan terjadi 100% seperti yang kita mau. atau kita prediksi (bahkan prediksi bukan sebuah kata yg mengungkapkan kepastian). atau kita ramalkan (tarot, ampas kopi, batang daun teh, sendal, tafsir mimpi, dan lainnya...). semuanya tetap tidak pasti.
tapi kita manusia. kita bisa berusaha. karena kita punya otak! selama otak di kepala kita masih bekerja, kita masih bisa melakukan sesuatu. setidaknya berdoa. itulah selemah-lemahnya manusia: hanya berdoa tanpa ikhtiar? hanya otak kitalah yang membuat (atau dibuat oleh otak orang lain, atau memang didesain oleh Yang Maha Pencipta) usaha kita dibatasi!
kemudian kita membuat batasan-batasan itu menjadi lebih longgar atau lebih sempit...
seperti apa yang aku lakukan padamu (apa harus ditegaskan subjek "kamu" dengan ungkapan "wahai kasih tak sampaiku, bukan hokiku, barang haram, bagai memeluk gunung..."???)!!! tidakkah kamu mengerti betapa egonya aku, memagariku dengan benteng yang kokoh tapi membuat jalan rahasia bawah tanah untuk menemuimu? lagipula, itu tidak adil untuk kamu dan aku (seperti syair lagu apa ya?)?
lagipula, aku tidak berani memastikannya secara langsung. apakah memang seharusnya aku berkorban untukmu? karena aku masih patuh pada norma-norma timur kita (yang banyak dipengaruhi norma barat!), dan aku hidup terintegrasi di dalamnya. membuatku mementahkan semua data-data yang kudapat dari ribuan enumerator kompeten. membuatku merasa derajat sample error 0,005 sudah terlalu besar sehingga preparat-preparat itu sebaiknya dibuang saja. bahkan meski kudiferensiasi ulang, mendekripsinya dengan berbagai pemecah sandi, merumuskannya dengan rumit melebihi kemampuan gaya leibniz atau newton dalam menyusun kalkulus... tetap tidak bisa!!! memang aku tidak jadi botak seperti profesor, atau mutasi gen, atau menjadi albino, atau mahluk rawa! tidak!
aku cuma tersenyum melihatmu tertawa lirih. memandangmu kosong matamu yang hampa. menulis blog sambil menghabiskan berbatang-batang marlboro. plus kopi super pahit tentunya...
mungkin aku cuma belum bisa membedakan sebuah perasaan. tertarik? kagum? sayang? birahi? ambisi? lagipula ini khan bukan semata-mata salahku! kenapa kamu begitu banyak memiliki sifat-sifat yang kuidam-idamkan? kenapa kamu begitu cantik? kenapa kamu begitu menarik? dewasa? kaya buah pikiran? sensual? kaya?
(untuk yang membaca blog ini, entah siapa dan kapan.... ok, kuakui, ini tentang seseorang)
kalau boleh sekarang menyanyikan lagu yang menjadi salah satu soundtrack film ada apa dengan cinta (ada dimana gitarku saat kubutuhkan...?):
teruntukmu hatiku, ingin ku bersuara
merangkai semua tanya, imaji yang terlintas
berjalan pada satu tanya slalu menggangguku
seseorang itukah dirimu kasih
kepada yang tercinta inginku mengeluh
semua resah di diri mencari jawab pasti
akankah seseorang yang diinginkan kan hadir
raut halus menyelimuti jantungku
reff :
cinta hanyalah cinta, hidup dan mati untukmu
mungkinkah semua tanya kau yang jawab
dan tentang seseorang itu pula dirimu
ku bersumpah akan mencinta
(anda "tentang seseorang" ost. ada apa dengan cinta)
well, meski aku juga bersumpah telah mencintaimu, tapi aku tidak bisa membuktikannya menjadi nyata padamu. seperti yang kubilang, aku mempunyai batasan-batasan. seperti lagu yang di bawah ini (gila, aku memang sebaiknya jadi penyanyi profesional. minimal pengamen!):
i can't stand to fly
i'm not that naive
i'm just out to find
the better part of me
i'm more than a bird
i'm more than a plane
more than some pretty face beside a train
it's not easy to be me
wish that i could cry
fall upon my knees
find a way to lie
about a home i'll never see
it may sound absurd
but don't be naive
even heroes have the right to bleed
i may be disturbed
but won't you concede
even heroes have the right to dream
it's not easy to be me
up, up and away
away from me
it's all right
you can all sleep sound tonight
i'm not crazy
or anything
i can't stand to fly
i'm not that naive
men weren't meant to ride
with clouds between their knees
i'm only a man in a silly red sheet
digging for kryptonite on this one way street
only a man in a funny red sheet
looking for special things inside of me
it's not easy to be me
(five for fighting "superman (it's not easy") ost. smallville)
got the pont? aku tetaplah aku. sehebat-hebatnya aku, aku manusia biasa. yang memiliki batasan-batasan. salah satunya adalah keterbatasan...
bagaimana sebaiknya aku menentukan sikap kepadamu???
nb:
for you who'd calm me down by saying, "it's enough for us to be a best friend. let's do it as usually we've done". yiha! boleh ttm nih ???
pernah berfikir tentang ketidakpastian? pernah berfikir tentang takdir? pernah berfikir kenapa nasib setiap orang berbeda-beda? pernah mendatangi peramal? atau menanyakan kejadian masa depan dari seorang teman yang katanya bisa menghitung kartu? atau membaca ampas kopi?
aku bukan orang yang suka mengumbar janji seenaknya. takdir itu rahasia Tuhan. bahkan Rasulullah saja pernah salah (ingat kisah ketika masa awal-awal dakwah, saat seorang yang meminta sebuah nash tentang suatu kasus, Rasulullah menjanjikannya satu hari tapi kemudian meleset? dan Allah menegurnya bahwa segala nasib, jodoh dan rejeki itu ditanganNya?)!!! adalah bodoh menganggap sesuatu akan terjadi 100% seperti yang kita mau. atau kita prediksi (bahkan prediksi bukan sebuah kata yg mengungkapkan kepastian). atau kita ramalkan (tarot, ampas kopi, batang daun teh, sendal, tafsir mimpi, dan lainnya...). semuanya tetap tidak pasti.
tapi kita manusia. kita bisa berusaha. karena kita punya otak! selama otak di kepala kita masih bekerja, kita masih bisa melakukan sesuatu. setidaknya berdoa. itulah selemah-lemahnya manusia: hanya berdoa tanpa ikhtiar? hanya otak kitalah yang membuat (atau dibuat oleh otak orang lain, atau memang didesain oleh Yang Maha Pencipta) usaha kita dibatasi!
kemudian kita membuat batasan-batasan itu menjadi lebih longgar atau lebih sempit...
seperti apa yang aku lakukan padamu (apa harus ditegaskan subjek "kamu" dengan ungkapan "wahai kasih tak sampaiku, bukan hokiku, barang haram, bagai memeluk gunung..."???)!!! tidakkah kamu mengerti betapa egonya aku, memagariku dengan benteng yang kokoh tapi membuat jalan rahasia bawah tanah untuk menemuimu? lagipula, itu tidak adil untuk kamu dan aku (seperti syair lagu apa ya?)?
lagipula, aku tidak berani memastikannya secara langsung. apakah memang seharusnya aku berkorban untukmu? karena aku masih patuh pada norma-norma timur kita (yang banyak dipengaruhi norma barat!), dan aku hidup terintegrasi di dalamnya. membuatku mementahkan semua data-data yang kudapat dari ribuan enumerator kompeten. membuatku merasa derajat sample error 0,005 sudah terlalu besar sehingga preparat-preparat itu sebaiknya dibuang saja. bahkan meski kudiferensiasi ulang, mendekripsinya dengan berbagai pemecah sandi, merumuskannya dengan rumit melebihi kemampuan gaya leibniz atau newton dalam menyusun kalkulus... tetap tidak bisa!!! memang aku tidak jadi botak seperti profesor, atau mutasi gen, atau menjadi albino, atau mahluk rawa! tidak!
aku cuma tersenyum melihatmu tertawa lirih. memandangmu kosong matamu yang hampa. menulis blog sambil menghabiskan berbatang-batang marlboro. plus kopi super pahit tentunya...
mungkin aku cuma belum bisa membedakan sebuah perasaan. tertarik? kagum? sayang? birahi? ambisi? lagipula ini khan bukan semata-mata salahku! kenapa kamu begitu banyak memiliki sifat-sifat yang kuidam-idamkan? kenapa kamu begitu cantik? kenapa kamu begitu menarik? dewasa? kaya buah pikiran? sensual? kaya?
(untuk yang membaca blog ini, entah siapa dan kapan.... ok, kuakui, ini tentang seseorang)
kalau boleh sekarang menyanyikan lagu yang menjadi salah satu soundtrack film ada apa dengan cinta (ada dimana gitarku saat kubutuhkan...?):
teruntukmu hatiku, ingin ku bersuara
merangkai semua tanya, imaji yang terlintas
berjalan pada satu tanya slalu menggangguku
seseorang itukah dirimu kasih
kepada yang tercinta inginku mengeluh
semua resah di diri mencari jawab pasti
akankah seseorang yang diinginkan kan hadir
raut halus menyelimuti jantungku
reff :
cinta hanyalah cinta, hidup dan mati untukmu
mungkinkah semua tanya kau yang jawab
dan tentang seseorang itu pula dirimu
ku bersumpah akan mencinta
(anda "tentang seseorang" ost. ada apa dengan cinta)
well, meski aku juga bersumpah telah mencintaimu, tapi aku tidak bisa membuktikannya menjadi nyata padamu. seperti yang kubilang, aku mempunyai batasan-batasan. seperti lagu yang di bawah ini (gila, aku memang sebaiknya jadi penyanyi profesional. minimal pengamen!):
i can't stand to fly
i'm not that naive
i'm just out to find
the better part of me
i'm more than a bird
i'm more than a plane
more than some pretty face beside a train
it's not easy to be me
wish that i could cry
fall upon my knees
find a way to lie
about a home i'll never see
it may sound absurd
but don't be naive
even heroes have the right to bleed
i may be disturbed
but won't you concede
even heroes have the right to dream
it's not easy to be me
up, up and away
away from me
it's all right
you can all sleep sound tonight
i'm not crazy
or anything
i can't stand to fly
i'm not that naive
men weren't meant to ride
with clouds between their knees
i'm only a man in a silly red sheet
digging for kryptonite on this one way street
only a man in a funny red sheet
looking for special things inside of me
it's not easy to be me
(five for fighting "superman (it's not easy") ost. smallville)
got the pont? aku tetaplah aku. sehebat-hebatnya aku, aku manusia biasa. yang memiliki batasan-batasan. salah satunya adalah keterbatasan...
bagaimana sebaiknya aku menentukan sikap kepadamu???
nb:
for you who'd calm me down by saying, "it's enough for us to be a best friend. let's do it as usually we've done". yiha! boleh ttm nih ???
Wednesday, October 19, 2005
another first posting ???
well... it's easier to build another one. but it's more difficult to express yourself? my friends said that blogging will never be the same as before. my question about the reason were answered that people (in indonesia especially)recently are getting easier to feel disturbed by the blog which assumed to be a brief (or something) about someone (while the fact is the writter not even knew the guy!!!). perhaps, i'm one of the one who felt annoyed by that kind of comments. blog is one of my privacy (put by one of my best friend's words), isn't it? still, i can't deny any comments from people who knew me. that is why i built this one. why i won't complain by getting bussy to open an online dictionary (Thank God it's easy to find by google!!!) so i can translate words to french...
however, i can't be anonymous forever. thus, i'll write some clue about me (this is just for people who'd like to know me):
1. i'm indonesian.
2. you can see my photo (or an edited picture?)
however, i can't be anonymous forever. thus, i'll write some clue about me (this is just for people who'd like to know me):
1. i'm indonesian.
2. you can see my photo (or an edited picture?)
Subscribe to:
Posts (Atom)